WELCOME TO THIS BLOG!!. PLEASE ENJOY THE MENU HAS BEEN PROVIDED

Rabu, 31 Agustus 2011

Penerapan Strategi The Events of Instruction (Peristiwa Pembelajaran)


Pendidikan merupakan salah satu alat untuk mewujudkan masyarakat yang berkualitas. Oleh karena itu, pemerintah Indonesia selalu terus-menerus berusaha meningkatkan kualitas pendidikan, walaupun hasilnya belum memenuhi harapan. Hal itu lebih terfokus lagi setelah diamanatkan bahwa tujuan pendidikan nasional adalah untuk meningkatkan mutu pendidikan pada setiap jenis dan jenjang pendidikan. Penyebab rendahnya hasil belajar siswa menurut Sunardi (1997:2) adalah metode pembelajaran kurang tepat, alat evaluasi yang kurang baik, atau materi yang diberikan kurang sesuai dengan tingkat berpikir siswa.
Setiap mata pelajaran mempunyai karakteristik tertentu baik ditinjau dari aspek kompetensi yang ingin dicapai, maupun dari aspek materi yang ingin dipelajari dalam rangka menunjang tercapainya kompetensi. Ditinjau dari aspek kompetensi yang ingin dicapai, fisika menekankan penguasaan konsep disamping kemampuan memecahkan masalah. Menurut Sudjana (1990:15) dalam proses pengajaran, intinya adalah kegiatan belajar para peserta didik. Berbagai usaha telah dilakukan untuk meningkatkan mutu pendidikan nasional, antara lain melalui berbagai latihan dan peningkatan kualifikasi guru, penyempurnaan kurikulum, pengadaan buku dan alat pelajaran, perbaikan sarana dan prasarana pendidikan lainnya serta peningkatan mutu pendidikan sekolah.
Upaya memperbaiki dan meningkatkan mutu pendidikan seakan tidak pernah berhenti. Banyak agenda reformasi yang telah, sedang, dan akan dilaksanakan. Reformasi pendidikan adalah restrukturisasi pendidikan, yaitu memperbaiki pola  hubungan sekolah dengan lingkungannya dan dengan pemerintah, pola pengembangan perencanaan serta pola mengembangkan manajerialnya, pemberdayaan guru dan restrukturisasi model-model pembelajaran (Murphy dalam Abdul Majid, 2008:3). Reformasi pendidikan tidak cukup hanya dengan perubahan dalam sektor kurikulum baik struktur maupun prosedur perumusannya. Pembaharuan kurikulum akan lebih bermakna bila diikuti perubahan praktik pembelajaran didalam maupun diluar kelas. Indikator pembaharuan kurikulum ditunjukkan dengan adanya perubahan pola kegiatan pembelajaran, pemilihan media pembelajaran, strategi, model maupun metode pembelajaran yang sesuai dan pola penilaian akan menentukan hasil pendidikan.
Menurut Ibrahim (dalam Hasanah,  2005:1) pembelajaran fisika tidak harus lagi mengarah kepada pembelajaran yang bersifat instruksional, yaitu pembelajaran yang hanya dilakukan untuk mencapai tujuan pembelajaran dan biasanya terpusat pada guru. Pembelajaran fisika harus lebih diarahkan kepada pembelajaran yang bersifat transaksional yaitu pembelajaran yang melibatkan guru dan siswa secara aktif sehingga pembelajaran tidak hanya terpusat pada guru tetapi juga berasal dari siswa. Dengan demikian pembelajaran fisika tidak boleh lagi hanya mengarah pada pemberian konsep semata, tetapi juga harus ada keterampilan dan sikap atau dengan kata lain pembelajaran fisika tidak berupa produk fisika melainkan mengarah pada proses fisika. Oleh karena itu dalam pembelajaran fisika penggunaan strategi pembelajaran yang sesuai dengan karakteristik fisika harus secara langsung dapat mengarahkan siswa percobaan langsung, mengalami sendiri, serta siswa merasa senang dan termotivasi dapat menambah efektifitas pembelajaran sesuai dengan tujuan dan kompetensi yang diinginkan. Oleh karena itu, diperlukan adanya strategi pembelajaran yang dapat meningkatkan aktivitas siswa dalam belajar. Hal ini sesuai dengan pendapat (Slameto, 1991) yang menyatakan bahwa strategi pembelajaran yang dikembangkan saat ini pada dasarnya tahap-tahap kegiatan pembelajaran mencakup persiapan, pelaksanaan, evaluasi, dan tindak lanjut. Strategi pembelajaran meliputi seluruh kegiatan/tahap-tahap tersebut, tetapi titik beratnya berada pada persiapan.
Gagne (1985) mengemukakan bahwa strategi the events of instruction (peristiwa pembelajaran) ini mendiskripsikan kondisi belajar internal dan eksternal utamanya untuk kapabilitas apa pun yang dipelajari. Hal ini terkait dengan teori belajar pengolahan informasi yang mendeskripsikan bahwa tindakan belajar merupakan proses internal yang mencakup beberapa tahapan. Peristiwa pembelajaran ini dibagi menjadi sembilan tahapan, yang diasumsikan sebagai cara-cara eksternal yang berpotensi mendukung proses-proses internal dalam belajar. Hakikat suatu peristiwa pembelajaran berbeda tergantung pada kapabilitas apa yang diharapkan akan menjadi hasil pembelajaran. Tahapan pembelajaran  The Events of Instruction (Peristiwa Pembelajaran) yang dikembangkan Gagne (1985) meliputi:
1.      menarik perhatian,
2.      memberitahukan tujuan pembelajaran,
3.      merangsang ingatan pada prasyarat pembelajaran,
4.      menyajikan bahan perangsang atau menyampaikan materi,
5.      memberikan bimbingan belajar,
6.      menampilkan unjuk kerja,
7.      memberi balikan,
8.      menilai unjuk kerja, dan
9.      meningkatkan retensi dan alih belajar.

Related Post



0 komentar: