WELCOME TO THIS BLOG!!. PLEASE ENJOY THE MENU HAS BEEN PROVIDED

Selasa, 19 Mei 2015

CONTOH PIDATO PENTINGNYA PENDIDIKAN DI ERA GLOBALISASI

PENTINGNYA PENDIDIKAN DI ERA GLOBALISASI
oleh : danty nilawaty


Assalamualaikum Wr.Wb
Ibu Guru yang terhormat
Serta kawan-kawan yang saya cintai.
Selamat pagi, salam sejahtera bagi kita semua

Mengawali Pidato ini,marilah kita panjatkan puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan karunianya sehingga kita dapat bertemu dan berkumpul di tempat ini dalam keadaan sehat walafiat. Selanjutnya,saya ucapkan banyak terima kasih kepada ibu dan teman-teman,yang telah memberikan kesempatan dan waktu kepada saya untuk membawakan Pidato yang singkat ini dengan JUDUL : “ PENTINGNYA PENDIDIKAN DI ERA GLOBALISASI “
Pendidikan merupakan investasi jangka panjang yang harus ditata, disiapkan, dan diberikan sarana dan prasarananya, dengan harapan agar kita dapat mencapai kompetensi, yakni perpaduan pengetahuan, sikap, dan keterampilan yang terefleksikan dalam kehidupan sehari-hari. Jadi Pendidikan merupakan kewajiban bagi semua warga Negara yang harus dilaksanakan untuk meningkatkan kemajuan Negara tersebut. Maju dan mundurnya suatu Negara ditentukan dari pendidikan yang diterapkan Negara tersebut.Jika suatu Negara ingin maju di bidang industri maka warga negaranya harus dicipta untuk membuat barang-barang produksi yang berkelas. Jika Negara itu ingin maju di bidang teknologi, maka warga negaranya harus dibimbing menjadi seorang pencipta mesin-mesin handal.Begitupun Indonesia , jika ingin meningkat kesejahteraan rakyat, maka warga yang dihasilkan haruslah seorang multitalenta sehingga dapat menyesuaikan diri dalam keadaan apapun.
Di Indonesia sendiri segala cara telah dilakukan untuk memajukan Pendidikan baik pendidikan jasmani dan rohani di dalam lingkup sekolah maupun di luar sekolah.Namun,banyaknya kendala menghalangi laju perkembangan Pendidikan di Indonesia yang masih tergolong terpuruk.Padahal di zaman yang serba Modern ini kita dituntut untuk terus berpacu menggali ilmu pengetahuan,andai kita lengah sedikit saja kita akan tertinggal dan semakin terpuruk.Dari mana kita bisa mendapatkan ilmu pengetahuan jika kita tidak belajar. Kita semua tahu dengan belajar, Indonesia dulu bisa keluar dari kubangan kebodohan.
Namun sayang, kini pendidikan di Indonesia  bukannya bertambah baik malah bertambah buruk.  Pendidikan yang seharusnya bertambah baik karena adanya beberapa sekolah gratis dan pemberian beasisiswa ternyata tidak  dapat berjalan dengan baik. Karena kemalasan anak masa kini, dan pemikiran tentang cara mendapatkan uang tanpa harus mempunyai ijasah tinggi.menyebabkan minat menuntut ilmu menciut. Mereka tidak tahu betapa pentingnya pendidikan bagi masa depan mereka kelak. Mereka malah melakukan kegiatan-kegiatan tak bermanfaat seperti membolos, pergi ke sekolah tetapi tidak masuk, dan membuat onar sehingga meresahkan warga.Maka dari itu peran orangtua dibutuhkan dalam permasalahan ini. Bagaimana orangtua bisa mengawasi agar anak-anak mereka tidak melakukan hal-hal yang kurang baik tersebut. Sekolah seharusnya mendukung pengawasan dari orangtua dan bekerja sama untuk mengontrol keberadaan anak.

Bukan hanya orangtua dan sekolah yang berperan dalam permasalah ini, pemerintahan juga harus turun tangan untuk memperbaiki keadaan yang masih porak-poranda ini. Pemerintah seharusnya mengambil tindakan yang lebih keras agar para siswa dapat menaati peraturan sehingga pendidikan di Indonesia bisa maju.Jadi semua kalangan sangat berperan dalam kemajuan pendidikan di Negara ini. Baik orangtua, lembaga pendidikan, dan pemerintah.
 Untuk teman-teman saya janganlah membolos atau membuat onar,karena jika kita melakukan itu semua sama saja kita menghancurkan masa depan kita dan masa depan Negara kita tercinta ini. Saya juga berharap kepada bapak dan ibu guru agar tetap tabah dan sabar dalam menghadapi murid-murid yang mungkin sifatnya kurang berkenan di hati bapak ibu. Keberhasilan mereka merupakan kebanggaan kita semua.   jangan pernah mencoba-coba untuk membuat guru marah dan sedih. Karena merekalah kita bisa berhasil kelak. Selain itu , ayo kita semua bersama-sama berjuang untuk mencapai cita-cita serta memperbaiki pendidikan di Indonesia. Semua itu tergantung pada kita sendiri bagaimana kita bisa menguasai diri kita. Bagaimana kita berusaha mengharumkan nama Indonesia di kanca internasional.. Ayo… semangat tunjukan kecemerlangan Indonesia.
Sekian Pidato dari saya semoga semua dapat mengerti ,betapa  berartinya pendidikan bagi kita. Dan jangan melupakan apa yang telah diharapkan dari kalian semua. Mudah-mudahan ini dapat dijadikan motivasi untuk kebaikan dan kesejahteraan kita semua. Kurang dan lebihnya mohon dimaafkan.

Wabilahitaufik wal hidayah Wassalamualaikum Wr.Wb

Minggu, 14 Desember 2014

Cara Belajar Matematika Lebih Mudah dan Menyenangkan

*oleh Diyah Ayuning Tyas, Guru SD Muhammadiyah 9 Malang

Saat mendengar kata matematika, yang terbayangkan adalah pelajaran yang berisi hitung-menghitung sesuatu yang abstrak. Hal tersebut berdampak pada minat belajar peserta didik yang kurang begitu antusias untuk mempelajari matematika. Andaikan matematika bukanlah mata pelajaran yang diujikan pada Ujian Sekolah (US) dan Ujian Nasional (UN), maka nasib matematika barangkali tidak sebaik saat ini.

Belajar matematika sesungguhnya bukan hanya belajar angka, bilangan, dan rumus. Konsep-konsep pembelajaran dalam matematika sejatinya dapat diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. Jadi belajar matematika bukan lagi belajar sesuatu yang abstrak, imajiner, dan khayal. Belajar matematika merupakan belajar sesuatu yang konkrit dan dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Salah satu contoh konkritisasi pembelajaran matematika adalah pembelajaran kompetensi debit (kelas VI). Peserta didik tidak hanya belajar bagaimana menghitung debit cairan, volume air, dan waktu, namun dapat menggunakan untuk menghitung berapa jumlah air yang dialirkan suatu bendungan tiap menit. Pembelajaran semacam itu membutuhkan kreatifitas guru untuk menarik pola fikir peserta didik dari zona abstrak menuju zona konkrit.

Salah satu cara untuk menghubungkan antara konsep yang dipelajari dengan aplikasi di dalam kehidupan sehari-hari perlu adanya alat atau media. Media yang dimaksud merupakan representasi terhadap aplikasi konsep yang dipelajari di dalam kehidupan sehari-hari. Penggunaan media diharapkan dapat mempermudah peserta didik memahami konsep dalam pembelajaran matematika sehingga tidak lagi bersifat abstrak, imajiner, dan khayal.

Realisasi konsep pembelajaran matematika oleh para ahli dinamakan Pembelajaran Matematika Realistik. Matematika realistik dapat dilakukan oleh semua pembelajar matematika baik guru, orang tua, lembaga bimbingan belajar, dan sebagainya.

Pembelajaran matematika realistik dibedakan menjadi 4 tahap (Yuwono, 2006). Tahap pertama, memahamkan kompetensi yang akan dipelajari dengan cara mengkonkritkan konsep. Tahapan ini dapat dilakukan dengan menjelaskan tujuan dan manfaat kegiatan pembelajaran kepada peserta didik.

Tahapan kedua, menyelesaikan masalah. Langkah ini dilakukan peserta didik setelah memahami masalah. Untuk menyelesaikan masalah kontekstual, perlu digunakan model berupa benda manipulatif, skema, atau diagram untuk menjembatani kesenjangan antara konkret dan abstrak atau dari abstraksi yang satu ke abstraksi lanjutannya.
 
Murid Presentasi ke depan kemudian hasilnya didiskusikan dengan Kelompok
Langkah yang ketiga adalah membandingkan dan mendiskusikan masalah. Langkah ini merupakan tempat peserta didik berkomunikasi dan memberikan sumbangan gagasan kepada peserta didik lain. Sumbangan atau gagasan peserta didik perlu diperhatikan dan dihargai agar terjadi petukaran ide dalam proses pembelajaran. Peserta didik memproduksi dan mengkonstruksi gagasan mereka, sehingga proses pembelajaran menjadi konstruktif dan produktif. Proses pembelajaran menjadi interaktif karena peserta didik dengan peserta didik dan peserta didik dengan guru mengadakan pertukaran gagasan.

Langkah yang ke empat adalah menyimpulkan. Langkah ini merupakan tempat peserta didik dan guru membuat kesepakatan untuk sampai pada konsep atau algoritma. Peserta didik diminta membuat kesimpulan secara mandiri tentang apa yang telah dikerjakan pada masalah sebelumnya. Jika peserta didik gagal, guru perlu mengarahkan ke arah kesimpulan yang seharusnya. Dalam langkah ini juga terjadi interaksi antara peserta didik dengan peserta didik dan peserta didik dengan guru.

Pembelajaran matematika adalah pembelajaran yang mudah dan menyenangkan. Begitulah kesan yang akan didapatkan oleh siswa setelah melaksanakan pembelajaran matematika realistik. Peserta didik akan selalu mendapat pengetahuan baru dengan pengalaman yang menyenangkan dan bermakna.