WELCOME TO THIS BLOG!!. PLEASE ENJOY THE MENU HAS BEEN PROVIDED

Jumat, 18 November 2011

PENERAPAN PEMBELAJARAN COOPERATIVE LEARNING DENGAN TEKNIK MAKE A MATCH


 
Pesatnya perkembangan ilmu dan teknologi dewasa ini dirasakan pengaruhnya di berbagai bidang. Seiring dengan perkembangan yang terjadi, dunia pendidikan sudah selayaknya melakukan penyesuaian agar senantiasa relevan. Pemerintah Indonesia dalam hal ini Departemen Pendidikan Nasional, telah mengambil langkah perbaikan dan pengembangan dalam bidang pendidikan. Langkah-langkah perbaikan dan pengembangan itu dapat di lihat antara lain dengan adanya perubahan kurikulum pendidikan dari tingkat dasar, menengah, dan perguruan tinggi.
Salah satu hal yang penting sehubungan dengan usaha-usaha perbaikan dan pengembangan kurikulum pendidikan adalah tujuan pendidikan, terutama yang berkaitan langsung dengan proses belajar mengajar, yakni tingkat pencapaian hasil belajar siswa yang berupa perubahan pola pikir dan tingkah laku.
Untuk mengubah pola pikir dan tingkah laku seorang siswa  bukanlah suatu hal yang mudah. Hal ini disebabkan masih ada anggapan sebagian siswa bahkan orang tua yang menyatakan bahwa matematika  sebagai mata pelajaran yang menakutkan dan merupakan mata pelajaran yang sangat sulit sehingga siswa tidak menyukai pelajaran matematika. Rasa tidak suka ini bisa bersumber dari diri siswa itu sendiri ataupun dari guru mata pelajaran matematika. Siswa merasakan bahwa pelajaran matematika sulit karena dari awal sudah tidak menyukai pelajaran matematika, atau bisa dikarenakan cara mengajar yang diterapkan oleh guru kurang mengena di hati para siswa sehingga tujuan pembelajaran tidak tercapai.
Masalah utama yang dirasakan guru adalah metode atau model pembelajaran yang digunakan dalam pembelajaran. Metode pengajaran yang diterapkan guru selama ini masih kurang memperhitungkan perbedaan kemampuan dan lebih menekankan pada tugas. Akibatnya, ditemukan motivasi belajar siswa menjadi rendah karena siswa sering menghadapi tugas berhitung yang cukup banyak.
Penggunaan metode yang tidak sesuai dengan tujuan pengajaran akan menjadi kendala dalam mencapai tujuan yang telah dirumuskan. Cukup banyak bahan pelajaran yang terbuang percuma hanya karena penggunaan model pembelajaran yang tidak tepat dan mengabaikan kebutuhan siswa, fasilitas dan situasi kelas. Karena itu, efektifitas suatu model pembelajaran dapat terjadi jika ada kesesuaian antara model pembelajaran dengan semua komponen pengajaran yang telah diprogramkan.
Berkaitan dengan masalah ini maka diperlukan suatu model pembelajaran yang memberikan kesempatan kepada siswa untuk saling memberi pengajaran diantara temannya, karena sebagian siswa merasa bahwa belajar dengan teman lebih menyenangkan daripada diajar oleh guru. Banyak ilmuwan pendidikan berusaha untuk mengembangkan metode atau model pembelajaran yang mengembangkan aspek pribadi siswa dalam pelajaran, salah satunya metode pembelajaran kooperatif. Dalam pembelajaran ini siswa bekerja dalam suatu kelompok untuk menyelesaikan suatu masalah. Metode pembelajaran kooperatif dikembangkan untuk memberikan tanggung jawab kepada siswa tentang keberhasilan kelompoknya, namun juga membantu teman lain untuk sukses bersama.
Cooperative learning merupakan metode pembelajaran yang memberikan kesempatan kepada anak didik untuk bekerja sama dengan sesama siswa dalam menyelesaikan tugas-tugas yang terstruktur. Dalam pembelajaran kooperatif siswa saling berinteraksi dan saling memunculkan strategi pemecahan masalah yang efektif. Pembelajaran kooperatif berbeda dengan pembelajaran secara kelompok biasa, karena pada pembelajaran kooperatif siswa tidak hanya bertanggung jawab terhadap dirinya sendiri tetapi juga terhadap kelompoknya. Pembelajaran kooperatif memberikan lingkungan belajar dimana siswa bekerja sama dalam suatu kelompok kecil yang kemampuannya berbeda (heterogen) untuk menyelesaikan tugas-tugas akademik.
Menurut Lie (2002:53-57), cooperative learning memiliki banyak teknik antara lain: mencari pasangan (make a match), bertukar pasangan, berpikir-berpasangan-berempat (think-pair-share and think-pair-square), berkirim salam dan soal, kepala bernomor (number heads), dan lain-lain. Salah satu teknik yang disebutkan diatas, yaitu mencari pasangan (make a match) adalah suatu teknik dalam model cooperative learning yang penerapannya dengan menggunakan kartu sebagai media untuk mengatur pola interaksi siswa dalam kelompok belajar. Setiap siswa akan mencari pasangan kelompoknya dengan mencocokkan kartu tersebut. Setelah mencocokkan kartu, bersama kelompok pasangannya siswa saling berbagi pemahaman tentang materi yang diajarkan. Kemudian guru memberikan tugas dan siswa mengerjakan tugas dengan pasangannya. Selanjutnya guru memasangkan dua kelompok yang berbeda untuk saling bertukar kartu dan mengerjakan soal. Dari kelompok baru tersebut kemudian saling menanyakan, berdiskusi dan mengukuhkan jawaban sehingga didapatkan temuan baru mengenai jawaban dari tugas mereka. Dibandingkan teknik lain, teknik mencari pasangan (make a match) memiliki kelebihan yaitu keaktifan belajar siswa lebih bermakna. Siswa tidak hanya melakukan aktivitas diskusi atau presentasi saja, dengan teknik mencari pasangan (make a match) ini siswa dapat mencocokkan jawaban yang dimiliki untuk mengetahui apakah jawaban yang siswa kerjakan benar atau salah. Jika jawaban kedua kelompok tidak sama, siswa akan berdiskusi untuk mencari jawaban yang benar. Penerapan model cooperative learning dengan teknik make a match (mencari pasangan) diharapkan menjadikan pelajaran lebih efektif dan efisien.

Related Post



0 komentar: